Senin, 01 Desember 2008

MAWAR BERDURI

Di kota tempatku tinggal ada seorang gadis yang cantik rupawan, tak seorang pun gadis di kota ini maupun di kota sekitar yang menyamai kecantikannya. Namun gadis itu tidak hanya terkenal akan kecantikannya namun juga terkenal akan sifatnya yang buruk, ia tidak ramah terhadap orang-orang, kata-kata yang keluar dari mulutnya seringkali menyinggung perasaan orang lain, ia pun tidak segan-segan menggunakan tangannya untuk memukul orang bila ia tidak suka pada perilaku orang tersebut. Banyak rumor-rumor negatif yang beredar di kotaku tentang gadis tersebut.

Suatu ketika tanpa sengaja aku bertubrukan dengannya ketika aku pulang kuliah. Buku-buku dan barang-barang yang kutenteng dengan kantong berhamburan di jalan. Melihat wajahnya yang mengernyitkan kening, dengan seketika aku panik dan ketakutan, dengan susah payah keluar juga kalimat itu,”Ma..maaf.” kataku terbata-bata tanpa sanggup mengeluarkan kalimat lain. Tanpa kusangka ia balas menjawab,”Tidak apa-apa, aku juga salah.” Kemudian ia membungkuk mulai memunguti buku dan barang-barangku. Sejenak aku tertegun, kemudian aku ikut memunguti barang-barangku. “Terima kasih.” Kataku saat ia menyerahkan barang-barangku padaku. Ia tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum kecil, bukan senyum yang ramah, tapi cukup sopan, kemudian ia berlalu.

Ternyata ia tidak seburuk yang orang-orang katakan pikirku, tadi aku sudah mengantisipasi kemarahannya, tapi ternyata itu tidak terjadi, bahkan ia mau membantuku. Aku jadi penasaran dengan dirinya, apa benar anggapan orang-orang selama ini terhadap dirinya? Jika benar mengapa aku tidak menangkap sikap seperti itu pada dirinya tadi?

Sejak saat itu kucoba tersenyum dan menyapa, saat kami bertemu. Ketika pertama kali memang canggung, raut wajahnya sama ketika ia kutabrak, mengernyitkan kening, seakan tidak suka dengan yang terpampang di depannya, namun setelah sesaat raut wajahnya kembali seperti semula setelah mengenaliku, tidak bisa dibilang ramah, tapi paling tidak juga tidak menolakku. Lama-lama kami makin akrab, memang membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk bisa berteman atau dianggap teman olehnya. Setelah bertahun-tahun berteman akhirnya kutahu alasan kenapa sifatnya seperti itu dan mengapa orang-orang berpikir negatif terhadap dirinya.

Sejak kecil ia hidup dalam penolakan, kebencian, dan rasa iri dari orang lain, sehingga ia tidak mudah percaya maupun bersikap ramah terhadap orang. Semasa ia sekolah di SD, sifatnya masih cukup ramah, ia masih suka tersenyum walaupun tidak banyak orang yang baik padanya. Anak lain akan menganggap ia sombong jika ia tidak mau berbagi jawaban atas tugas-tugas yang diberikan guru. Biasanya kalimat yang keluar dari mulut anak-anak itu adalah “Mentang-mentang pinter!”, atau “Cakep tapi belagu!”. Anak-anak cewek lebih sengit lagi membencinya karena kecantikannya, tapi banyak anak cowok yang tertarik padanya, dan hal itu semakin memperparah kebencian anak-anak cewek disekitarnya.

Banyak cowok yang mendekatinya dan memberikan segala macam benda padanya, kata mereka sih bukti cinta mereka padanya. Namun tak seorang pun cowok yang ia jadikan pacar, akibatnya ia dibenci juga oleh para cowok, nyanyian “Cakep tapi belagu!”, ”Mentang-mentang cakep!”, “Dasar sombong!”, dan semacamnya semakin santer terdengar seiring dengan bertambahnya usianya. Ketika kutanya kenapa ia menolak semua cowok yang mendekatinya, ia menjawab,”Mereka mendekatiku hanya karena penampilanku, lagipula mereka menganggap aku semacam tropi, jika salah satu dari mereka dapat berpacaran denganku maka ia akan bangga sekali seperti memenangkan pertandingan terhadap cowok-cowok lainnya dan tropinya adalah aku. Buat apa aku berpacaran jika hanya dianggap sebagai benda, aku tidak dihargai sebagai aku. Lagipula selama ini tidak ada satu pun pribadi mereka yang kusukai, jika aku mengiyakan ajakan mereka bukankah aku akan jadi orang bodoh yang menipu diri sendiri.”

Mendengarnya aku menjadi sedikit memahaminya. Tapi dibalik serangan-serangan kecil itu, aku mendengar hal-hal yang lebih mengerikan lagi. Karena ia cantik, pria yang mendekatinya tidak mengenal batasan umur, banyak diantara mereka yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Melihat wajah cantik dan tubuh indah, tangan mereka menjadi liar. Tidak terhitung lagi pelecehan yang dialami dirinya. Sewaktu masih SD, ia sudah terbiasa berangkat ke sekolah sendirian, ada seorang bapak yang rupanya tidak tahan melihat dirinya, maka beraksilah tangannya dengan ditutupi koran supaya tidak terlihat penumpang lain, dengan bebasnya menggerayangi anak SD yang mungkin saja seumur dengan anaknya. Hingga kini dan aku rasa akan tetap berlanjut ia akan terus diganggu oleh tangan-tangan jahil di angkutan umum, yang kelihatannya tidak tahan melihat barang bagus. Tentu saja ia tidak berdiam diri begitu saja menerima pelecehan seperti itu di kendaraan umum, sering kali ia mengkonfrontir orang-orang tersebut.”Eh, ngapain tangan lo ngegerepe-gerepe!”, “Nggak tau sopan santun apa! Nggak pernah diajarin orang tua ya!”. Namun apa jawaban mereka? Ada yang berpura-pura menjadi orang baik yang menjadi korban salah tuduh,”Kamu ngomong apa sih, jangan nuduh sembarangannya! Jangan mentang-mentang cakep jadi kamu pikir kita pasti mau sama kamu. Sok kecakepan!” Ada yang tidak repot-repot membela diri dan mengakui tindakannya tapi tidak merasa tindakannya itu salah,”Salah sendiri situ cakep, tangan kita jadi gatel.”, “Situ yang minta digerepe, udah bagus nggak diperkosa.” Aku yang bukan orang yang merasakannya sendiri saja merasa darahku mendidih mendengar kata-kata seperti itu, bagaimana dia yang sudah dilecehkan dan dikata-katai. Jadi aku maklum saja bila dia menjadi suka melayangkan tangannya setelah mendengar kata-kata seperti itu.

Mengenai teman-temannya yang jumlahnya amat sedikit aku juga dapat memakluminya. Teman-temannya yang sekarang termasuk diriku ini, sudah bisa dianggap lulus seleksi. Jangan berburuk sangka dulu, maksudku dengan lulus seleksi adalah orang-orang yang mendekati dan berteman dengannya tidak dengan niat tertentu yang tidak baik. Banyak yang mendekatinya sebagai teman hanya karena gengsinya akan naik kalau berteman dengan orang yang cantik dan pintar, katanya sih seperti golongan elite. Ada yang mendekatinya untuk memanfaatkan kecantikan dan kepintarannya, kalau sebagai temannya tentu akan dibantu bukan. Kata-kata favorit mereka adalah,”Kan kita teman.”, tapi teman-teman palsu itu akan meninggalkannya saat ia kesusahan, membencinya karena merasa kalah dan tidak akan pernah menang darinya, memfitnahnya karena ia tidak bisa menerima dirinya dimanfaatkan oleh mereka.

Kami yang memahami dirinya mengerti bahwa ia adalah orang yang baik. Dirinya yang tidak ramah adalah akibat orang-orang yang tidak ramah padanya. Dirinya yang suka menilai orang karena orang-orang umumnya melakukan tindakan yang membuatnya harus bisa menilai seseorang jika ia ingin survive di lingkungannya. Tindakannya yang buruk karena orang lain melakukan tindakan buruk padanya. Ia hanya manusia biasa yang berusaha melindungi dirinya sendiri dari dunianya yang tidak bersahabat. Seperti mawar yang indah namun berduri tajam untuk melindungi dirinya.

Tidak ada komentar: